View from a Daughter ; It’s Not My Favorite Thing

by - 1:19 PM

Hari itu saya sedang berjalan-jalan ke salah satu toko buku di kawasan jalan Veteran. Ternyata di halaman samping toko itu sedang diadakan semacam bazaar buku-buku dengan harga miring. Selesai berbelanja buku yang memang saya cari saat itu, saya menyempatkan diri untuk mampir melihat-lihat jajaran buku di rak bazaar yang tidak tersusun secara rapi itu. Kebanyakan buku dan komik yang dijual di sana adalah buku cetakan lama. Beberapa buku yang saya lihat merupakan cetakan tahun dua ribu sepuluh ke bawah. Dari perburuan kecil saya di bazaar, saya berhasil membawa pulang tiga buku, dua buah buku kumpulan cerpen penulis Indonesia dan satu buah teenlit karangan penulis asing.
Buku berjenis kumpulan cerpen memang sudah menjadi favorit saya sejak lama karena buku ini menyajikan kisah beragam dalam sekali baca. Bermodal membaca testimoni orang di sampul belakang saya mantap membeli dua buku kumpulan cerpen itu. Sedangkan buku jenis teenlit sebenarnya sudah tidak menjadi salah satu favorit saya lagi semenjak kuliah. Mungkin karena faktor umur, saya beranggapan seusia saya harusnya sudah tidak terlena dengan bacaan berbau remaja lagi. Tapi teenlit yang saya beli saat itu, Life on the Refrigerator karangan Alice Kuipers, sukses menarik perhatian saya dengan desain sampul depan yang sangat manis. Saya memang orang yang sangat mudah tertarik oleh hal visual. Ini bukan buku pertama yang saya beli karena mempunyai desain sampul yang bagus. Judul dan desain sampul Life on the Refrigerator benar-benar menggambarkan apa yang saya bayangkan ketika membaca judul buku itu. Sebuah pintu kulkas dengan tempelan kertas-kertas penuh pesan seperti yang biasa tergambar di film-film keluarga di Amerika. Namun ada hal lain yang menarik perhatian saya selain sampul buku tersebut, sinopsis singkat di sampul belakang. Nampaknya ini bukan teenlit dengan cerita cinta biasa antar sepasang remaja, tapi cerita yang menyajikan cinta yang terjalin antara seorang ibu dan anak perempuannya.
Sesampainya di rumah, saya berjanji pada diri sendiri baru akan membaca ketiga buku itu setelah mengikuti tes salah satu pekerjaan dua minggu yang akan datang. Tapi keadaan berkata lain, saya terlalu memanjakan diri dengan betapa mudahnya tergoda membaca setidaknya satu novel saja sebagai media refreshing setelah belajar berjam-jam untuk tes. Life on the Refrigerator menjadi buku yang saya pilih untuk dibaca. Saya kaget ketika membaca buku ini, ternyata isinya benar-benar seratus persen berisi tulisan pesan-pesan singkat di pintu kulkas. Buku setebal dua ratus tiga puluh tiga halaman itu habis saya lahap dalam semalam, karena halaman per halaman hanya berisi tulisan yang sangat singkat. Dan dalam semalam buku ini mendapat label ‘bukan buku favorit’ saya. Saya menyukai apa pun itu, baik novel, film, drama, atau pun hanya sekedar tayangan reality show, yang berkisah tentang cinta seorang anak dan ibunya. Namun saya sangat sensitif ketika cerita tersebut berkisah tentang penyakit kanker. Demi apa pun yang ada di dunia ini, menjadi bagian dari orang yang pernah mengidap kanker, ini sama sekali tidak menyenangkan untuk dibahas.
Saya selalu merasa dalam keadaan canggung ketika duduk bersama ibu saya sambil menonton film yang salah satu tokohnya menderita kanker. Seperti biasa, film tersebut akan dipenuhi oleh adegan penuh air mata para pemerannya. Saya takut hal seperti itu membangkitkan kembali rasa sedih akan apa yang ibu saya alami empat tahun lalu, vonis kanker payudara. Saya sangat menyayangkan ketika banyak cerita yang mengakhiri kisah seputar kanker dengan kematian. Siklus yang biasa diangkat berawal dengan kehidupan normal sebelum vonis kanker, kemudian kengerian vonis kanker, pengobatan, perjuangan, dan demi kepentingan klimkas cerita diakhiri dengan perasaan kehilangan oleh orang-orang terdekat atas kepergian selamanya sang penderita kanker. Klimaks suatu cerita memang membutuhkan sesuatu yang mengguncang dan tiada yang lebih mengguncang selain kisah mengenai kehilangan seseorang yang begitu berharga. Hal ini mungkin sudah biasa dalam dunia penulisan cerita, tapi bukan hal biasa yang mudah dilupakan oleh mereka yang pernah mengalaminya. Ketika berhadapan dengan kanker, keadaan fragile bukan hanya dialami oleh penderita, namun juga oleh orang terdekat. Apa mereka tahu kengerian yang kami rasakan tidak hanya berbatas air mata kesedihan? Apa mereka tahu rasanya menggenggam rambut-rambut yang rontok karena kemoterapi? Apa mereka tahu rasanya hati yang teriris ketika mencari semangat untuk bangkit?

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.