Keluarga Impian Pandu

by - 12:02 AM

Wangi campuran rempah-rempah berhembus segar mengelilingi dapur. Nisa dengan sangat hati-hati memasukkan irisan kentang dan wortel ke dalam panci yang berisi beberapa potong ayam dengan kuah yang mendidih, sambil sesekali melirik catatan resep Soto Banjar yang dia tempelkan di dinding dapur. Dia sudah tidak terlalu ingat bagaimana rasa dan resep asli masakan yang sedang dia masak sekarang. Seingatnya, rasa itu terakhir kali menempel di lidahnya sekitar empat tahun yang lalu, Ramadan terakhir di kota kelahirannya. Ingatan tentang rasa itu kalah bersaing dengan Soto Surabaya dan Betawi yang sering dia beli di warung soto di seberang rumah. Hari ini pertama kalinya dia mencoba sendiri membuat Soto Banjar untuk lauk berbuka puasa nanti.

”Mama, nanti di Banjar banyak Soto Banjar?” tanya Pandu, anak laki-laki Nisa yang baru saja masuk TK. Dia sedang duduk tengkurap di lantai dapur sambil menggambar sebuah panci dan kompor gas yang tidak terlalu jelas bentuknya di atas kertas buku gambar.

”Iya, sayang.”

”Mama, yang bikin sotonya nenek Pandu sama kayak nenek Dwi yang jualan di muka rumah?”

Nisa tak menjawab apa-apa. Dia sudah selesai dengan pekerjaan mencampur semua bahan dan bumbu ke dalam panci. Didekatinya Pandu yang masih asik menggambar. Kali ini sudah ada sesosok perempuan berambut panjang dengan dua titik mata dan garis bibir melengkung tersenyum di dekat gambar panci dan kompor.

”Mama, ini mama lagi masak SO-TO-BAN-JAAR. Hahaha,” Pandu mengeja nama masakan ibunya sambil tertawa. Mulut kecilnya sengaja ia buat membulat. Dia tertawa sendiri, merasa jenaka akan sikapnya tersebut.

”Gambar Pandu mana?”

Pertanyaan singkat dari Nisa langsung mengomando Pandu menggambar sosok yang lebih pendek dengan rambut keriting tepat di sebelah gambar Nisa.

”Ini gambar Pandu,” dia diam sejenak untuk menyelesaikan gambar sepatu di kaki ’gambar Pandu’.

”Sekarang Pandu mau gambar Papa.”

Tangan kecil yang menggenggam erat pensil itu kembali menggoreskan imajinasi nya. Tak lama kemudian sosok Papa hadir disebelah gambar Pandu, lengkap dengan kemeja lengan pendek dan celana panjang seperti yang biasa dia kenakan ketika bekerja.

”Pandu, nanti Papa nggak ikut kita pulang ke Banjar.”

”Kenapa Papa ditinggal, Ma?”

”Papa jaga rumah. Nanti rumah kita kosong, siapa yang jaga rumah kalau papa juga ikut?”

”Ada Pak Hansip Parmin, Ma, yang jagain semua rumah di komplek ini.”

Nisa hanya bisa tersenyum mendengar celotehan Pandu, kemudian dia refleks mencium pipi tembem yang selalu tampak merah itu. Setelah dicium sekali, Pandu mengelak ketika Nisa nampak ingin mencium pipi nya untuk yang kedua kali. Wajahnya seketika berubah menjadi cemberut yang dibuat-buat, tapi masih saja menggemaskan dengan mulut nya yang manyun. Dia tak pernah tahu gemuruh apa yang mengiringi kehidupannya bahkan sebelum dia lahir.

”Kalau Papa nggak ikut, nggak seru. Nggak ada yang gendong Pandu.”

”Tapi, kan, di sana ada kakek dan nenek. Ada om, tante, dan sepupu Pandu juga banyak.”

”Seberapa banyak? Ba-nyak?” ucap Pandu kembali antusias.

Tidak sulit bagi Nisa membangkitkan kembali semangat Pandu. Jagoan kecilnya ini hanya perlu dicarikan penggantinya saja jika dia ’kehilangan sesuatu’.

”Mama, Pandu mau menggambar kakek Pandu, nenek Pandu, om Pandu, tante Pandu, sepupu-sepupu Pan-Du.” Tangan kecil yang tak pernah diam ketika melihat pensil dan alat tulis lainnya itu kembali siap menari di atas kertas gambar. ”Tapi Pandu belum pernah lihat mereka.” Pandu mendelik menghadap Nisa dengan mata yang melotot penuh tanya.

*****

Dua hari sebelum lebaran, Nisa dan Pandu berangkat ke Banjarmasin. Pesawat yang ditumpangi Nisa dan Pandu mendarat dengan mulus di bandara Syamsudin Noor. Pandu sangat menyukai pengalaman pertamanya naik pesawat. Sepanjang penerbangan dia tak henti-henti mengomentari apa saja yang dia lihat. Di sana, sudah ada yang siap menjemput Nisa dan Pandu, Rahman, kakak tertua Nisa. Rahman membawa dua orang anak perempuannya. Anak pertama berambut panjang, diikat satu kebelakang, bernama Rika. Anak kedua nampak lebih muda dari pada Rika, berambut panjang namun dibiarkan tergerai, bernama Rita. Seperti biasa, Pandu bisa dengan mudah akrab dengan kedua sepupunya yang baru dia kenal itu.

Sekitar satu jam perjalanan dari bandara, mereka sudah tiba di rumah orang tua Nisa. Sebuah rumah berdinding kayu, bercat biru, berdiri kokoh membelakangi sungai.  Rumah itu sama sekali tak mengalami perubahan sejak terakhir kali Nisa berada di sana. Dari dalam rumah keluar seorang pria tua yang mengenakan sarung dan baju koko. Nisa yang melihat pria itu langsungmenghamburkan pelukannya.

”Abah,” ucap Nisa pelan. Mengekor dibelakangnnya Pandu yang juga turut memeluk abah walau hanya sebatas pinggangnya saja. Sedangkan abah hanya membalas pelukan Nisa, tanpa ada kata yang dia ucapkan. Rasa rindu yang mereka rasakan tertelan oleh rasa bahagia atas datangnya hari itu.

Abah kemudian merangkul Pandu dan menggiringnya masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ternyata sudah berkumpul seluruh anggota keluarga yang lain. Ada Raisa, istri Rahman, dan Mahmud, si bungsu yang kini memiliki postur tubuh paling tinggi di antara mereka. Terduduk di sofa tamu, mama. Dia hanya diam, menatap ke arah Nisa dengan tatapan kosong. Nisa segera bersimpuh dihadapan mamanya dan mencium kedua telapak tangannya. Tak ada respon dari mama. Nisa mendongak, ditatapnya wajah mama dengan penuh penyesalan.

Mama ikam kana penyakit stroke, wayahini ngalih bepandir. Bulik gin ikam, nak, ai, hari raya ini. Kasian mama ikam. Kada lagi pang inya ma usir ikam,’* kata abah melelui telpon di hari pertama puasa Ramadan.

Nisa sudah tak pernah menginjakkan kaki lagi dirumah ini semenjak keinginannya untuk menikah ditentang oleh ibu. Ibunya bersumpah tidak akan memberikan restu pernikahannya dengan Toni sampai kapanpun. Ibu sangat tidak menyukai Toni yang masih pengangguran namun sudah meminta Nisa untuk menikah dan ikut tinggal bersamanya. Entah apa yang terjadi pada Nisa saat itu, dia lebih memilih Toni dan nekat pergi meninggalkan rumah. Sejak saat itu tidak pernah ada komunikasi yang terjalin antara Nisa dan ibunya. Hanya ayah yang kadang-kadang menelpon sekedar untuk menanyakan kabarnya. Kedua saudara laki-lakinya sesekali mengunjungi Nisa jika mereka sedang berada di Jakarta.

”Ma, nenek kenapa? Nenek kok diam kayak orang bisu?” Pandu berdiri di belakang Nisa tanpa berani mendekati neneknya.

”Nenek sakit, sayang. Sakit stroke, jadi susah ngomong.”

”Kenapa, Ma?”

”Nenek kena serangan stroke. Pandu yang manis, ya, sama nenek. Sana salim dulu tangan nenek.”
Pandu segera mencari tangan kanan sang nenek dan menciumnya. Tanpa disangka, seketika itu juga ibu menarik tangan Pandu dan memeluknya. Rorongan tangis tanpa irama yang jelas keluar dari mulutnya. Didekapnya Pandu dengan pelukan yang kencang hingga Pandu sendiri ingin melepaskan pelukan itu. Sedikitpun ibu tak melonggarkan pelukannya. Dipeluknya Pandu sekencang-kencangnya, diiringi tangisan yang semakin menjadi.

”Hanhu.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut ibu.
Nisa tak kuasa melihat kejadian itu. Dia menelungkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajah, menangis dalam diam. Dari belakang, tangan ayah merangkul bahu Nisa. Pelan, suara ayah juga terdengar terisak. Hari itu, Nisa merasa seperti ada beban yang baru saja tercabut dari pundaknya. Perasaan lega ketika melihat ibunya memeluk Pandu dengan erat.

’Mama, Pandu, kok, nggak punya nenek kayak neneknya Dwi?’ Seringkali Pandu bertanya seperti itu setiap kali melihat nenek Dwi menggendong Dwi.

*****
Pandu tertidur pulas di tempat tidurnya. Hari ini Nisa mendapat kabar bahwa Pandu mendapat nilai terbaik untuk pelajaran menggambar. Selembar kertas gambar dengan nilai A+ terletak di atas dada Pandu yang sedang tidur. Nisa mengambil kertas itu dan memperhatikan satu per satu sosok yang dia gambar. Sebuah gambar satu keluarga besar. Pandu berdiri di tengah diapit oleh kedua orang tuanya. Di sebelah Nisa berdiri kakek dan nenek. Pandu menggambar nenek dengan rambut keriting yang sama persis dengan rambutnya. Selain itu gambar Rahman beserta keluarganya dan Mahmud turut menghiasi gambaran Pandu akan sosok keluarga besar yang selalu membuatnya iri ketika melihat teman-temannya memiliki anggota keluarga yang lengkap. Dengan pelan dan hati-hati Nisa mengoleskan lem pada kertas itu dan  menempelkannya di dinding samping ranjang Pandu.



*’Ibu kamu terserang penyakit stroke, sekarang sulit berbicara. Pulanglah kamu, nak, hari raya kali ini. Kasihan ibumu. Dia tidak akan mengusirmu lagi.’


Banjarmasin, 1 Agustus 2013

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.