Rumpi Cangkir Kopi # 25

by - 10:07 PM


Ellie merasa dirinya bagai tersambar petir di siang bolong. Dia menerima telepon dari Hendro yang memberitahukan kondisi terkena di kedainya.
“Bu, kedai Ibu kemasukan maling.”
“Apa? Kok bisa? Malingnya masuk masuk dari mana?”
”Tadi yang kebuka sih pintu samping, Bu.”
Ellie menepuk dahi  dengan tangan kirinya. Dia menyadari bahwa pintu samping, yang terhubung langsung dengan area parkir berada jauh dari sorot kamera CCTV.
“Ada yang hilang enggak, Hen?”
“Enggak tahu, Bu, tapi kalau ruangan Ibu lumayan berantakan.” 
“Cangkir-cangkir ada yang hilang atau pecah, enggak?”
“Sepertinya enggak ada, Bu.”
“Ya, udah, nanti sebentar lagi saya ke sana,” kata Ellie menutup pembicaraan yang mampu membuatnya merasakan kembali ketegangan di belakang lehernya.
Keadaan di kedai saat itu sangat kacau. Pintu samping yang diduga sebagai jalan masuknya maling itu mengalami kerusakan di bagian kunci. Semalam, Ellie sendiri yang menjadi orang terakhir mengunci pintu. Ellie masih sangat ingat bahwa dia lah yang mengunci pintu itu. Berbeda dengan pintu depan, dia tak memberikan kunci serap pintu samping ini kepada siapa pun. Kondisi bagian depan kafe masih terlihat rapi, seolah tidak ada bekas tempat kemasukan maling, bahkan kursi dan meja pun tidak mengalami pergeseran tempat. Bagian yang mengalami kekacauan parah adalah dapur. Tempat sampah berhamburan dengan isi yang tumpah dari sana. Stok gelas kertas dan plastik yang di simpan di lemari dapur berhamburan di lantai.
 Ruangan kantor kecil Ellie juga tak kalah berantakan. Berkas-berkas invoice berhamburan di lantai. Selimut dan bantal Ellie yang tersusun di dalam lemari pun ikut terdampar di luar. Brankas kecil yang tersembunyi di lemari itu sudah berpindah tempat ke luar, berada di bawah meja kerja Ellie, tapi masih dalam kondisi terkunci.



#30DWC #30DWCJilid19 #Day25

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.