Untitle

by - 12:12 AM

Bibir mungil itu mengerucut dan menjulurkan daging lunak berwarna merah dengan serabut putih di atasnya. Seorang pria tertawa dengan bahu terguncang naik turun, menertawakan tingkah perempuan yang berada di hadapannya. “Kamu Lucu,” kekehnya.

Mata perempuan itu seketika menyipit dan menatap tajam ke arah pria itu. “Bisa tidak sehari saja dia tidak mengganggumu? Apa perlu aku datang ke ruanganmu dan melabraknya?”

“Hahaha, diamkan saja dia. Nanti pasti dia akan menjauh dengan sendirinya.”
Perempuan itu terdiam. Sepiring spagetti tak lagi menarik perhatiannya sejak beberapa menit yang lalu ketika pria itu menceritakan harinya di kantor. Garpu stainless menancap tegak lurus di tengah tumpukan spagetti yang masih menggunung.

“Apa harus aku ungkapkan tentang hubungan kita yang sebenarnya pada dia? Hanya pada dia saja. Dia pasti bisa tutup mulut, kan?”

“Tunggu hingga enam bulan lagi saja. Lebih baik kamu mulai membiasakan diri dari sekarang. Dia tidak akan cukup menggoda ku.” Dicubitnya pipi gadis yang ada dihadapannya itu.

“Bim, Aku telat. Harusnya sudah datang bulan sejak tiga hari yang lalu.”

“Hah? Oh, baru tiga hari, kan?”

“Tapi aku tidak merasakan kram perut beberapa hari terakhir ini. Biasanya perutku kram seminggu sebelum datang bulan.”

Pria itu menunduk dan memainkan es batu dalam minuman colanya dengan sedotan. “Baguslah, berarti kita berdua subur.”

“Bukan salahku, ya. Kau sudah aku peringatkan sejak awal.”

“Hahaha. Berarti aku sudah menjadi pria sejati.”

“Kalau semua ini baru kita buka enam bulan lagi, berarti perutku ini akan sangat besar saat resepsi nanti. Pasti perempuan itu akan sangat kecewa karena pangerannya dia kira menghamili perempuan di luar nikah. Kenapa bisa terjadi sekarang, ya? Kalau sudah terjadi seperti ini, serapat apapun kita menutupi rahasia, pasti akan ketahuan kalau kita sudah berbohong soal pernikahan kita.”

“Kau sudah mengatakan hal ini pada ibu ku atau ibu mu?”

“Belum. Aku masih belum yakin juga.”

“Menurut perkiraan mu, berapa usia nya sekarang?”

“Mana ku tahu. Bukannya kamu lebih tahu tantang hal semacam ini.”

“Kalau ini memang benar, kita bisa terancam batal membeli rumah karena tabungan kita akan terkuras dengan denda yang harus kita hadapi.”

“Apa maksudmu? Di perut ku ini sedang terkandung nyawa seorang manusia. Kau jangan asal bicara. Kita menikah secara sah menurut agama. Anak ini anak halal, Bim. Kita hanya tidak mematuhi etika perusahaan tentang hubungan antar karyawan ”

Bima menatap dalam ke arah perempuannya. Diam tanpa kata.

“Biar aku saja yang mengalah. Jika perut ini membesar nanti, maka aku lah yang akan menanggung malu jika tetap bertahan di sini. Lagipula denda yang harus kita keluarkan bisa jauh lebih kecil. Dan juga aku tidak ingin melihat lebih lama lagi wajah anak baru terang-terangan mendekatimu.”

Mereka berdua memasuki lift yang turun dalam keadaan kosong. Bima memencet tombol dua kemudian empat.

“Aku harus lembur lagi malam ini. Mungkin baru bisa pulang di atas jam sepuluh malam.”

“Hmmm.. Tapi ingat, jangan pernah sesekali kamu menawarkan diri untuk mengantarkan dia pulang ke rumah, ok?”

“Ok,” Jawab Bima singkat sambil mengelus perut Perempuannya yang berdiri di samping kirinya, dari samping, dengan tangan kanannya.

Pintu lift terbuka, perempuannya segera beranjak keluar sambil berjalan menoleh dan melambaikan tangan ke arah Bisma.


Banjarmasin, 19 April 2014


via

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.