Belajar Idealisme Dari Secangkir Kopi

by - 12:11 AM




Cerita Kopi :
Nama Kafe : Kawai Kofie
Lokasi : Jl. Adhyaksa
Instagram : @kawaikofie
Kafe ini tergolong baru, terhitung sejak 2018. Dengan konsep industrialis, di dominasi warna hitam dan nuansa dinding unfinished, pengunjung dapat merasakan suasana kafe kekinian. Hal yang saya suka dari kafe ini adalah dinding dengan material kaca yang mengelilingi bangunan luar yang menghasilkan efek terang di dalam kafe. Bagi kalian para perokok, bisa menikmati santai di kafe ini di teras samping atau belakang, dan mereka yang ingin aman dari asap rokok bisa bersantai dengan nyaman di dalam kafe.
Pada saat kunjungan kemarin, kami memesan kopi dengan racikan modern dan classic yang kemudian disajikan menjadi cappucinno. Yang mana cappucinno classic ternyata memberikan rasa yang sedikit lebih pahit ketimbang cappucinno modern. Tips dari saya, bagi kalian yang ingin kopinya agak lebih manis, silahkan minta gula cair tersendiri kepada barista.
Dan poin utama yang saya suka dari kafe ini adalah penyajian kopinya, pada sebuah gelas kecil dengan tatakan kayu. Kami diberi dua gelas warna yang berbeda. Seketika saya teringat cerpen saya Rumpi Cangkir Kopi.

*Special thanks untuk Arini R yang sudah berbagi foto dengan saya. 





"Adventure in life is good; consistency in coffee even better.” 
― Justina Chen Headley, North of Beautiful


Hari ini, Minggu, 3 Maret 2019, saya berhasil menjalani janji temu dengan salah satu teman baik saya. Karena keperluan menjalani hidup masing-masing, terkadang agak susah mencari waktu yang pas hanya untuk sekedar bertemu. Saya bahkan sengaja mengatur jadwal dengannya selama beberapa hari sebelumnya agar pertemuan kali ini dapat terlaksana. Yah, hidup tak selamanya memberikan waktu lapang, begitu juga waktu sibuk. 
Lama tak bertemu, kami jadi mempunyai banyak stok cerita. Walau terlahir di kehidupan nyata, entah mengapa ada saja drama yang tercipta dalam kehidupan ini. Seperti sering dikatakan oleh para psikolog, bercerita kepada sahabat bisa membuat mental kita lebih sehat. Dan salah satu alasan mengapa seseorang bisa menjadi teman baik kita adalah karena dia bisa menjadi pendengar yang kita percaya, tanpa perlu menyisakan rasa khawatir. Entah itu cerita rahasia atau cerita receh belaka.
Kami bertemu di Kawai Kofie, di jalan Adhyaksa Kayu Tangi. Saya sengaja mengajaknya bertemu di sini karena saya ingin kembali menghidupkan jiwa blogger saya yang telah lama tidur. Saya percaya, aroma kopi bisa membangkitkan kembali memori semangat dalam menulis. Di zaman vlogger ini, mungkin blogger sudah tak seramai dulu lagi. Blog-blog yang sudah lama saya ikuti banyak yang tidak update. Memang dalam perkembangan zaman, pergeseran budaya mau tidak mau ya menjadi tak terhindarkan lagi.  
Zaman berubah, sudut pandang juga sering ikut berubah. Berapa banyak dari kita yang menyadari bahwa, misalnya, dalam sepuluh tahun terakhir ada hal yang dulu kita rasa menyenangkan, sekarang menjadi 'benda asing'. Bagi saya, kemampuan untuk menulis sekarang terasa asing. Kadang terpikir, apa ini karena faktor umur? otak sepertinya sudah agak tumpul. Yang jelas karena kurang diasah, sih. Dan sedikit kurang bahan bakar, yaitu inspirasi. Sayangnya inspirasi itu bukan sesuatu yang dapat diciptakan, tapi sesuatu yang datang dan membutuhkan penyadaran akan eksistansinya. Saya berharap jiwa menulis itu bisa bangun kembali. Andai ada sesuatu yang serupa kopi, yang mampu membuat semangat dan kreativitas tetap terjaga.
Saat melihat dua gelas kopi yang terhidang di atas meja, saya mengagumi eksistensi kopi yang sudah hadir sejak ribuan tahun yang lalu. Walau dikenal sebagai minuman dengan cita rasa pahit, dan sekarang sudah banyak varian rasa kopi yang dibuat, tapi tetap saja dia harus menyisakan rasa pahit agar bisa kita sebut kopi. Integritasnya pun tetap sama, sedari awal ditemukannya tahun 800 SM, konsisten membuat para peminumnya mampu terjaga dari rasa kantuk.
Apakah kopi idealis? Tidak. Dia bukan manusia yang mempunyai sifat. Dia adalah benda yang mampu membuat kita terjaga agar dapat memikirkan suatu hal tanpa terhalang kantuk. Jika idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna, maka melek adalah cita-cita dari para pembuat kopi. Apakah ada orang yang mebuat kopi tanpa merasa perlu melek? Ada, mereka yang sudah kecanduan rasa kopi. Merasa harinya akan kurang tanpa melewatinya bersama kopi. Atau mereka yang memandang kopi sebagai gaya hidup, bagian dari pergaulan. Tapi apa kopi peduli dengan sudut pandang para peminumnya? Tidak. Dia hanya menjadi dirinya apa adanya.
Bisa kah kita menjadi seperti kopi? Kita mungkin akan dipertemukan dengan sesuatu yang baru, terpaksa melebur bersama dengan hal baru, beradaptasi dengan hal baru tapi masih bisa menjadi diri kita sendiri? Tetap bisa mengenali 'signature' diri kita walau sekian waktu telah berlalu dan bermacam ujian yang dihadapi. 

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.