Rumpi Cangkir Kopi # 10

by - 11:51 PM

Pagi itu, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Ellie dan Andrew membuka jadwal wawancara kerja dengan calon karyawan baru. Wawancara berlangsung singkat, karena Ellie hanya ingin tahu bagaimana cara berkomunikasi para pelamar. Dia meminta para pelamarnya untuk memperkenalkan diri dan memberikan simulasi bagaimana melayani pelanggan. Hampir semua pelamar yang datang masih berusia sangat muda, kebanyakan baru lulus dari SMA, ada juga beberapa dari mereka yang sambil kuliah.

“Gue pilih cewek ini, El. Follower Instagram nya banyak. Kita tuh perlu seorang yang narsis, yang secara alami dia mempromosikan kegiatan dia di kedai kita tanpa kesan dibuat-buat.” Andrew menunjuk pas foto seorang perempuan berambut panjang yang terpajang di sudut kanan atas surat lamarannya. Sepanjang wawancara, Andrew menanyakan akun Instagram para pelamar dan langsung mengecek keberadaan akun tersebut setelahnya.

“Tapi nanti kerjaan dia foto-foto terus, Dru.”

“Suruh dia merangkap jadi admin sosial media kita, jadi dia ter-mindset untuk fokus foto-foto produk atau kegiatan kita.”

“Kenapa sih dari kemarin selalu ngomongin Instagram. Kemarin minta selebgram, sekarang minta admin Instagram.”

“Eh, kita ini hidup di zaman sosial media. Kita kan harus hidup mengikuti perkembangan zaman, jadi ikutilah arus zaman sosial media. Kebanyakan orang-orang sekarang itu paling menghindari yang namanya hard selling, mereka lebih suka menilai berdasarkan penilaian pada orang yang mereka percayai. Jadi saat seseorang mem-posting momen kebahagian mereka di suatu tempat, maka para follower mereka menganggap tempat yang mereka kunjungi tersebut adalah tempat yang membahagiakan dan patut untuk dikunjungi. ”

“Nah, lu pernah enggak promosi  kedai kita di Instagram lu yang follower-nya puluhan ribu itu? Enggak pernah kan?” 

“Ya, beda lah, El. Instagram gue itu Instagram travelling. Masa tiba-tiba muncul promo kedai kita? Itu namanya hard selling.”

“Tapi lu sempat aja bikin Insta Stories kalau lagi jalan sama cewek lu.”

“El,” kata Andrew lirih sambil menggosok hidungnya. “Pokoknya, please deh, sekali ini kita fokus di sosial media. Kalau mau kedai ini dapat pengunjung banyak, kita perlu orang luar daripada berharap sama karyawan di sini.”

“Oke, kalau lu yakin. Asal lu enggak minta gue buat jadi admin Instagram,” kata Ellie menirukan gaya bicara Andrew beberapa hari yang lalu ketika menolak ikut membagikan brosur. “Dua karyawan yang lain gue yang pilih. Gue pengen cewek berjilbab yang tadi dan cowok berambut cepak tadi. Gue lebih yakin sama yang sudah pengalaman.”

“Oke. Gue setuju.”

By the way, kenapa cewek lu juga enggak pernah posting foto sekali pun tentang kedai ini? Seolah-olah dia enggak bangga lu jadi bagian dari tempat ini? Beda sama suami Dira yang selalu posting foto kalau lagi main ke sini.”

“Karena ada lu.” Andrew meletakkan semua surat lamaran yang semula dia pegang ke atas meja, kemudian pergi meninggal kan Ellie menuju pintu yang mengarah ke teras kedai. Dari arah dalam kedai, di mana antara kedai bagian dalam dan teras hanya dibatasi dinding berbingkai jendela kaca, Ellie bisa melihat Andrew duduk di kursi panjang sambil mengeluarkan sebatang rokok.

 #30DWC #30DWCJilid19 #Day10

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.