Rumpi Cangkir Kopi # 3

by - 10:45 PM

“Kenapa, bang?” tanya Dira yang ikut heran meliat Robert meniup-niup telapak tangannya.

“Cangkir itu kok, panas sekali?”

“Apanya yang panas?” Dira menarik cangkir merah muda milik Ellie dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Dira mengerutkan kedua alisnya karena tak merasakan sedikitpun rasa panas keluar dari permukaan cangkir itu. 

Tak percaya dengan apa yang baru saja dialami, Robert kembali menyentuh cangkir itu. Dan benar saja kalau cangkir tersebut dingin, tak ada sedikitpun hawa panas. “Oh, Sorry, mungkin saya kurang fokus,” Robert berkata seraya mengedikkan bahunya.

“Atau mungkin sebaiknya Pak Robert istirahat dulu, lah,”  kata Andrew dengan nada santai. “Bapak ini terlalu sibuk sepertinya.” Dia kemudian terkekeh pelan, diiringi senyum tipis Ellie yang tertahan kepalan tangan di depan mulutnya.

Sekembalinya dari rapat bersama Robert, Ellie meninggalkan cangkir merah mudanya yang telah kosong di belakang meja kasir, tanpa mencucinya. Dia kemudian pergi meninggalkan kedai, dua jam sebelum kedai dijadwalkan buka di siang hari. Kedai itu sekarang berada dalam keadaan kosong. Sandra dan Hendro biasanya baru akan datang lima belas menit sebelum kedai buka.

Di dunia cangkir yang tak pernah diketahui eksistensinya, Elona melakukan perbincangan serius dengan Andreas, cangkir berwarna hitam dengan motif kunci G, yang tergantung di dinding secara terbalik. 

“Apa yang terjadi, Elona?” tanya Andreas antusias.

“Aku sudah tidak tahan lagi Andreas! Manusia rakus itu ingin menutup kedai kita. Aku sudah tahu itu sejak pertama kali bertemu dengannya. Aku bahkan bisa mencium kebusukan dari mulutnya.”

“Siapa yang kau maksud manusia rakus?”

“Seorang pria yang Ellie panggil dengan sebutan ‘Pak Robert’, tapi sebelum orang itu datang Ellie menyebut orang itu dengan sebutan ‘Tumak’.”

“Apa itu ‘Tumak’?”

“Oh, Andreas, kau persis sama dengan pemberimu. Andrew tadi juga bertanya seperti itu. Tumak, Ellie bilang itu artinya Tuan Tamak.”

“Oh, hahaha…”

“Apa yang kau tertawakan?”

“Aku dan Andrew sama. Aku selalu senang setiap kali disamakan dengan Andrew. Bagiku dia sempurna, karena dia memiliki selera yang bagus. Dia tahu aku pilihan yang istimewa di antara semua gelas di toko cendera mata terbaik di kota Milan.”

“Berhentilah membanggakan dirimu sendiri,  Andreas!”

“Kenapa kalian ribut sekali?” protes cangkir transparan yang tersembunyi di lemari kayu di belakang meja tempat biasanya para pelanggan melakukan transaksi pemesanan.

“Maaf, Tuan Transparan. Kami akan berbicara dengan lebih pelan.  Kau lanjutkan saja istirahatmu di sana,” seru Elona dengan suara lembut.

“Ya, kau harus banyak istirahat selama kau masih diberi waktu bersantai di lemari sana,” cibir Andreas.

“Ssssttt… Diam kau Andreas!”

“Kau yang diam, Elona. Kalau kau terlalu gampang emosi, kau akan cepat retak dan berakhir di samping Tuan Transparan itu.”

Setelah itu Elona terdiam. Semenjak keluar dari ruang rapat tadi, dia memang merasa struktur kepadatan tubuhnya tidak seimbang. Mitos yang beredar di kalangan cangkir, kondisi yang seperti itu sering mengarah pada menipisnya tingkat harapan hidup secara utuh hingga kemudian mereka retak atau pecah seketika.

#30DWC #30DWCJilid19 #Day3

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.