Rumpi Cangkir Kopi # 19

by - 10:53 PM

Suasana kedai menjadi gaduh dalam kegelapan. Terdengar sorak sorai bernada ‘Huuuuu….” yang dilontarkan para pengunjung. Suara protes pun terdengar dari berbagai sumber. Pengunjung saling melemparkan candaan bernada sarkasme saat menyadari hanya kedai Ellie yang mengalami pemutusan arus listrik. Dan tak lama kemudian, terdengar suara benda jatuh, mengeluarkan bunyi prank akibat benturan dengan lantai keramik dan menggemparkan beberapa orang di sekitarnya.

“Sayang, Kamu kenapa?” Terdengar suara Niki di antara keributan tersebut.

“Aku kesenggol cangkir kamu kayaknya, Nik. Sorry, ya.”

Ellie seketika menyadari bahwa saat itu dia telah kehilangan Panda. Dia ingat saat hendak mengantarkan cangkir pesanan Pria Berkemeja Biru tadi, dia melihat Panda juga berada di meja tersebut.

“Iya, Sayang, enggak apa-apa. Duh, ini gimana sih kafe bisa mati lampu kayak gini.”

“Yah, namanya juga kafe kecil. Mungkin mereka enggak punya mesin genset.”

“Rugi banget dong, Sayang, aku udah booking tempat malah mati lampu.”

“Kita balik aja, yuk, Nik. Aku khawatir kalau ada korsleting, nanti kita bisa bahaya kalau ada apa-apa di tempat ini.”

Dengan sedikit pencahayaan dari ponsel-ponsel yang dinyalakan oleh pengunjung, Ellie bisa melihat Niki sedang berjalan menuju ke arahnya seorang diri.

“Mbak, ini gimana acara saya belum selesai. Saya pokoknya minta kompensasi harga, saya enggak mau bayar full sewa tempat ini,” protes Niki.

“Oke, mbak Niki. Kita ngomongin ini besok-besok, ya. Suasananya sekarang sangat tidak kondusif. Saya janji akan ada kompensasi soal insiden malam ini. Ngomong-ngomong tadi ada cangkir saya yang pecah, ya?” Ellie memandang ke arah bawah meja tempat di mana si Pria Berkemeja Biru duduk dan melihat kedua mata Panda yang sudah terpisah di atas lantai.

“Oh, iya, tadi kesenggol pacar saya soalnya gelap banget dia enggak bisa lihat apa-apa. Benar, ya, saya tunggu kabar dari Mbak. Kalau enggak, saya enggak bayar sisa pelunasan sewanya.” Niki kemudian segera berlalu kembali pada pacarnya itu dan nampak juga mengajak teman-temannya yang lain untuk pergi.

Semua pengunjung pun akhirnya pergi meninggalkan kedai, menyisakan tempat yang berserakan dalam gelap. Ellie lalu meminta agar para karyawannya menyalakan fitur sentar di ponsel masing-masing untuk memberikan pencahayaan sementara.

*******
Akibat padamnya listrik di kedai tadi malam, Ellie harus menanggung malu yang tak terkira di hadapan para pelanggannya, terutama Niki dan si Pria Berkemeja Biru. Pesta ulang tahun semalam harus bubar lebih awal dari yang dijadwalkan karena hingga lima belas menit listrik tak kunjung menyala. Listrik baru menyala kembali setengah jam kemudian setelah suami Dira turun tangan untuk menelpon kepala teknisi.

Pagi ini Ellie berjalan sendirian ke kantor Robert di lantai dua. Dia tak memberitahu Dira atau pun Andrew tentang keinginannya menyampaikan protes pada Robert. Dia sudah bisa menebak bahwa Dira pasti akan meminta untuk menyerahkan masalah ini pada Dira saja, memanfaatkan koneksi yang dia punya. Sedangkan Andrew kemungkinan akan menggelontorkan pinjaman modal lagi pada Ellie agar bisa melunasi hutang tagihan listrik. Sesampainya di depan kantor Robert, sekretaris Robert yang berjaga di sana memberitahu Ellie bahwa saat itu Robert sedang tidak berada di dalam karena harus menemani calon tenant baru untuk survei tempat di rooftop.

Ellie kemudian segera berjalan menuju lift dan langsung pergi ke lantai lima belas dimana rooftop berada. Beberapa detik kemudian, dengan tanpa ada yang menahan laju lift dari lantai dua, pintu lift terbuka di lantai lima belas. Di balik pintu berdiri Robert dan dua orang berseragam warna hitam dengan bordiran sebuah nama kafe franchise dari luar negeri. Ellie segera menyadari bahwa calon tenant yang dimaksud sekretaris Robert tadi adalah kafe franchise dari luar negeri ini.



#30DWC #DWCJilid19 #Day19


You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.