Rumpi Cangkir Kopi # 18

by - 8:43 PM

Ellie sebenarnya ingin pergi meninggalkan kedai sekarang juga, tapi sangat tidak profesional meninggalkan para karyawan lain yang sibuk melayani para tamu ulang tahun ini hanya karena alasan pribadi. Mantan pacarmu, yang juga pernah jadi rekan kerjamu, yang sama sekali tak mengangkatmu saat terpuruk, dan yang juga mengkhianatimu, merayakan ulang tahun di kedai kopi yang dulu pernah  disangsikan keberlangsungannya olehnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Elona?” Tanya Andreas menuntut penjelasan.

“Oh, Andreas, aku ingat betul ada hari dimana Ellie hanya tidur-tiduran di kamarnya selama  sehari penuh. Kemudian pria itu pernah datang ke rumah Ellie saat dia sedang menikmati kopi paginya di hari sabtu dan mereka saling berteriak satu sama lain. Pertengkaran itu baru berakhir saat Ellie terduduk dan menangis tanpa suara. Dan pria ini pergi begitu saja. Kau tahu? Setelah pertengkaran itu Ellie bahkan melupakan ku! Aku dibiarkan saja berada di depan TV sampai besok harinya tanpa di cuci.”

“Woh, dilupakan dan tak dicuci itu adalah mimpi buruk semua cangkir, Elona.”

Sementara itu, Ellie hanya terdiam duduk di belakang meja kasir. Dia lebih memilih duduk di situ daripada bergabung bersama Andrew Dira dan berpotensi memulai ghibah tentang pria berkemeja biru dan Niki. Dia tidak ingin pria berkemeja biru itu menang dengan opininya saat Ellie memutuskan untuk resign dulu, bahwa Ellie tidak mempunyai jiwa bisnis, hanya ingin bersenang-senang dan tak akan mampu tahan banting dalam berusaha.

Sesekali, Ellie mencuri pandang ke arah pria berkemeja biru dan Niki yang duduk bersebelahan. Saat menyerahkan buket bunga setelah berakhirnya acara tiup lilin tadi, Ellie dan pria berkemeja biru itu hanya saling lempar senyum. Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka kecuali ucapan ‘Selamat Ulang Tahun’, karena dipotong dengan kehebohan Niki yang bertindak sebagai empunya pesta. 

“Lu udah makan belum?” tanya Andrew yang tak disadari kehadirannya oleh Ellie.

“Belum,” jawab Ellie sambil menggelengkan kepala. 

“Ya, udah, kalau acara ini sudah selesai, lu gue traktir makan deh biar enggak cemberut lagi.”

“Kalau begini gue jadi enggak nafsu makan, Dru.” Ellie menoleh dan menatap dalam wajah Andrew. 

Kehadiran pria berkemeja biru itu secara otomatis menimbulkan kembali kenangan lama Ellie. Ellie membandingkan Andrew dan pria itu. Pria itu hanya kaya dengan perhatian saat di awal perkenalan. Sedangkan Andrew, meskipun mereka sudah berteman sejak SMA walau tidak terlalu akrab, dan baru akrab setelah  dia ikut menjadi investor di kedai ini, biasanya selalu aktif menanyakan waktu makan Ellie. Dia selalu beralasan tidak suka makan sendirian dan senang apabila Ellie mau menemaninya makan.

“Gue pulang dulu, ya, sayang.” Dira berpamitan pada Ellie sambil melepaskan pelukan perpisahan. “Gak usah dipikirin, ya. Makan malam duluu aja sama Andru."

“Maaf, bu, saya permisi mau ijin ke toilet. Saya enggak sempat ngantar pesanan kopi Mocha ini sama mas-mas yang pakai baju kemeja biru panjang.” April mengintrupsi sambil berlari kecil karena sudah sangat ingin ke toilet.

“Oke, saya antar.” Segera Ellie mengambil cangkir kopi yang tadi di serahkan April padanya. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian diri, Ellie segera mengambil cangkir itu dan berjalan menuju pria tersebut.

Secara mengejutkan, kedai tiba-tiba kehilangan cahaya lampu dan menjadi gelap. Hanya ada temeraman lampu dari para pengguna jalan raya.

“Ini pemutusan karena enggak bayar listrik, ya, Dir?” tanya Ellie pada Dira yang masih berada di belakang meja kasir.

#30DWC #30DWCJilid19 #Day18

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.