Rumpi Cangkir Kopi # 8

by - 10:55 PM


Sambil menguap, yang hampir dua menit sekali terjadi, Hendro mengumpulkan gelas-gelas plastik bekas yang ditinggalkan di sekitaran lobi. Gelas-gelas plastik itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik sampah besar berwarna  hitam. Sepanjang pagi itu, Hendro lebih mirip orang yang tidur sambil berdiri.

“Coba Kau lihat nasib mereka di dalam kantong plastik itu,” celoteh Panda pada Polcoff. “Mereka hanya bisa menikmati hidup dalam sekali pakai. Yah, walau dari mereka ada yang tetap akan menikmati hidup lebih panjang di tempat lain, tapi ada juga yang berakhir di perairan luas yang tak berujung. Huh, sungguh mengerikan. Aku membayangkannya saja sudah takut.”

“Bagaimana rasanya berada di perairan luas? apakah dingin seperti air keran yang aku rasakan saat aku datang ke sini?” tanya Palcoff, si cangkir polkadot bertubuh paling tinggi di antara semua cangkir yang ada di sana, namun minim pengalaman hidup.

“Kau tanyakan saja pada Elona, dia tahu tentang banyak hal.”

“Dimana dia sekarang? Dia sudah tidak masuk ke dalam lemari kita sejak kemarin.”

“Hei, anak baru!” seru Andreas yang berada satu tingkat di atas mereka. “Kau tidak ingin bertanya padaku? Aku sudah pernah melewati perairan luas itu selama lebih dari sepuluh jam.”

“Benar, kah? Seperti apa rasanya?”

“Gelap.”

“Waaahh… Apakah benar mengerikan? Apakah dingin?”

“Aku tidak bisa melihat apa-apa karena gelap. Gelap karena mereka memasukkanku ke dalam kotak kemudian membungkusku dengan kertas berwarna-warni.”

Robert melangkah masuk ke dalam kedai dengan wajah tanpa senyum. Dia berjalan pelan sambil memperhatikan setiap inci keadaan kedai kopi Ellie. “Sudah habis, ya, kopi gratisnya? Saya enggak kebagian, nih,” kata Robert berbasa-basi.

“Iya, Pak, sudah habis. Karyawan di sini banyak yang suka,” kata Ellie berbangga hati.

“Siapa yang tidak suka gratis.” Sesegeranya keheningan datang menyusup setelah Robert berkata seperti itu.

Tanpa instruksi, Ellie membuka  lemari display-nya dan mengambil sebuah cangkir bermotif polkadot coklat. Dia bergerak ke meja barista dan membuat secangkir kopi Latte. Cangkir yang masih hangat itu dia bawa ke hadapan Robert yang sedang berjalan mengelilingi kedai. 

“Ini buat Pak Robert.” Ellie menghentikan acara patroli Robert dengan menyodorkan secangkir kopi itu padanya.

“Oh, terima kasih, El.” Robert hanya memandangi cangkir berisi kopi Latte itu dan menghirup aromanya sebentar. “Nanti saya minum, saya tidak suka kopi yang masih panas.”

“Iya, Pak. Sayang rasanya kalau semua karyawan di sini sudah merasakan kopi kami sedangkan Bapak tidak.”

“Oke, kalau begitu terima kasih. Saya pinjam cangkirnya dulu, saya harus kembali ke ruangan saya sekarang. Saya hanya mampir untuk sekedar lihat-lihat. Semoga setelah ini kedai ini jadi tambah ramai.”

“Baik, Pak, terima kasih.”

Robert berjalan pergi meninggalkan kedai sambil membawa Polcoff di tangan kirinya. Selang beberapa menit kemudian datang seorang perempuan muda berambut pendek, yang dikenali oleh Ellie sebagai sekretaris Robert, ke dalam kedai.

“El, ada titipan dari Pak Robert.”

Ellie mengambil amplop berwarna putih yang disodorkan oleh perempuan itu dan membukanya. Amplop itu berisi tagihan listrik dan air selama enam bulan yang harus dibayar oleh Ellie.

#30DWC #30DWCJilid19 #Day8

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.