Rumpi Cangkir Kopi # 13

by - 11:35 PM

Semua cangkir dikumpulkan dengan rapi di lemari display, termasuk Elona. Mereka memperhatikan bagaimana para karyawan baru dilatih. Periode training bukanlah saat yang menyenangkan bagi para cangkir. Pelipe, cangkir kembaran Andreas yang berwarna coklat, pecah di hari pertama pelatihan pada masa awal persiapan pembukaan kedai kopi. Orang yang memecahkan Pelipe hanya mampu bertahan bekerja selama seminggu di sana. Bukan karena Pelipe menghantuinya, tapi karena dia selalu merasakan hal aneh setiap kali melihat Andreas.

“Elona, sepertinya kau akan pensiun menjadi cangkir Ellie. Pada pelatihan pertama kau bersama Ellie, tapi sekarang kau ada bersama kami,” celoteh Panda.

“Tak apa. Aku akan merasa terhormat jika harus berada di sini dan dipilih untuk melayani para pelanggan.”

“Kau harus berhenti besar kepala hanya karena kau cangkir kesayangan Ellie. Dari sekarang kau harus siap menghadapi kenyataan bersama para karyawan baru ini,” celutuk Andreas yang berada satu tingkat di atas Elona dan Panda. “Hmmm, sepertinya kau harus hati-hati dengan perempuan berambut panjang ini. Aku bisa merasakan hawa kecerobohan, aku bisa melihat masa kegelapan.”

“Ha! Tidak ada satupun yang mempercayai prediksi mu itu, Andreas,” olok Elena.

“Hanya pada saat gelap, kau akan mengerti arti sebuah cahaya.” Tribby, cangkir bermotif tribal, bersuara. 

“Hei,” Panda setengah berbisik pada Elona yang terletak di sampingnya. “Baru kali ini aku mendengar dia berbicara.”

“Aku juga jarang mendengar dia berbicara. Dia cangkir sepuh, sudah ada bersama Ellie bahkan di saat aku datang tujuh tahun yang lalu,” Elona balas berbisik. 

Tak ada lagi cangkir yang berbicara setelah itu. Ucapan yang keluar dari Tribby adalah hal yang langka. Selama ini Elona memegang peran bak kepala suku karena merupakan cangkir kesayangan Ellie. Namun Tribby adalah cangkir dengan usia tua, pemberian ayah Ellie. Dia dilukis langsung oleh ayah Ellie pada sebuah kelas seni saat  SMA. Dia melalui banyak hal yang jauh lebih banyak dari apa yang sudah dilalui Elona, hanya saja dia tak suka berada di depan. Andreas bilang dia pernah melihat retakan sehalus rambut pada telinga Tribby, itulah sebabnya dia lebih banyak diam.

“Ini koleksi cangkir saya.” Ellie mengajak para karyawannya berjalan mendekati lemari display. “Ada sekitar tiga puluhan cangkir dengan motif berbeda di lemari ini. Dan untuk berjaga-jaga, saya juga menyediakan gelas tambahan, tapi dengan model transparan di lemari yang ada di belakang meja barista. Beberapa dari cangkir bermotif ini mempunyai nama. Gelas pink dengan motif hati itu bernama Elona, di sebelahnya Panda, yang bergambar kunci G itu bernama Andreas, yang di pojok itu Tribby. Polcoff mana, ya, San?” Ellie menyadari hilangnya Polcoff dari lemarinya.

“Belum dikembalikan pak Robert, Bu,” jawab Sandra.

“Ck,” Ellie berdecak sebal. Polcoff adalah cangkir yang baru saja dia beli bulan lalu di salah satu hypermarket. “Ingatkan saya nanti untuk ngambil, ya. Oke, kita lanjut ke praktek cara membuat menu kopi. Sandra dan Hendro tolong siapkan bahan-bahan.”

“Cangkirnya bagus-bagus, ya, Bu,” kata April yang berdiri sangat dekat dengan lemari display.

Thanks April.” Saat itu, Ellie tak mengetahui sama sekali bahwa ponsel yang terselip di kantong depan kemeja April sedang berada pada posisi menyala. Kamera ponsel yang menghadap ke depan itu merekam secara bebas kegiatan training dan menyiarkannya secara live di Instagram.

    #30DWC #30DWCJilid19 #Day13

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.