Rumpi Cangkir Kopi # 23

by - 9:53 PM

Ellie kembali ke kedai dengan wajah sumringah. Di tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat itu. Dia berhasil sampai tepat waktu mengantar kopi-kopi pesanan tanpa ada kendala di perjalanan menuju lantai sepuluh. Baginya, semesta memberikan dukungan penuh atas apa yang dia lakukan. Semesta tahu bagaimana beratnya dia bertahan di tahap ini, bertahan untuk tetap melanjutkan apa yang sudah dia mulai.
Andrew sudah berada di kedai saat Ellie datang. Semalam, melalui telpon, Ellie menceritakan padanya tentang rencana masuknya kafe baru di rooftop. Ellie memintanya datang untuk membicarakan kembali strategi pemasaran mereka untuk mengantisipasi datangnya pesaing baru itu. Ada sesuatu yang tak biasa kali ini, Andrew tak datang seorang diri seperti biasanya. Ada Tania, perempuan muda cantik yang sudah menempel bersama Andrew selama hampir dua tahun lamanya.
“Loh, pagi amat datangnya, Dru?”
“Iya, nih, mampir bentar sebelum ngantar Tania.” Andrew berbicara sambil menoleh ke arah Tania yang duduk di sebelahnya.
“Hai, Tania,” sapa Ellie sambil mengambil tempat duduk di hadapan mereka berdua. Tania tampak tak berminat menggubris sapaan Ellie dan lebih memilih sibuk dengan ponselnya sendiri. “Lu kalau sibuk mau ngantar Tania, antar aja dulu. Kita bisa ngobrol nanti-nanti, kok.”
“Gue mau pergi sama dia juga maksudnya.”
“Oh...”
“Ke Singapur.”
“Oh…”
“Lusa baru balik, makanya mampir dulu ke sini.”
“Oh…”
“El,” Andrew bisa merasakan kecanggungan di antara mereka saat itu. “Gue pengen ngenalin lu sama sepupunya Tania, deh. Dia juga punya bisnis kafe di kota lain. Mungkin lu bisa tanya-tanya sama dia yang lebih berpengalaman. Iya, kan, Tan?”
Tania hanya memberikan respon mengangguk. Pandangannya tak beralih sedikitpun dari layar ponsel.
“Gue bisa ketemu sama dia dimana?”
“Dia lagi ada di kota ini sampai minggu depan. Kemarin gue sih ketemu dia di rumah Tania, dan gue udah cerita soal kondisi kita saat ini. Nanti lu gue kasih kartu nama dia, dan lu silahkan kontak dia sendiri, terserah mau janjian kapan ketemuan di mana. Lu ajak aja DIra kalau dia lagi enggak sibuk.”
“Oh, oke.. Thanks, ya , Tania,” kata Ellie sengaja memancing perhatian Tania.
“It’s Ok!” kata Tania yang akhirnya mendongak, dengan wajah datar tanpa senyum.
Ellie sangat-sangat memahami ekspresi dari Tania tersebut. Selama ini Tania merasa bahwa pertemanan antara Ellie dan Andrew terlalu dekat. Dia protes karena Ellie adalah perempuan lain selain dirinya yang mampu membuat Andrew segera datang jika diminta untuk datang, perempuan lain yang diingat oleh Andrew kapan hari ulang tahunnya selain dirinya.



#30DWC #30DWCJilid19 #Day23

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.