Rumpi Cangkir Kopi # 26

by - 11:51 PM

Ellie memperhatikan kondisi ruangannya dengan seksama. Dia memeriksa hampir setiap inchi sudut ruangannya dan memilah-milah lembaran kertas yang berhamburan di ruangannya. Tak ada satupun benda yang dia sadari hilang. 
“Ada apa ini?” Tanya Robert yang tiba-tiba saja berada di depan pintu ruangan Ellie. “Tadi saya lihat banyak sekuriti yang berkumpul di depan, jadi saya mampir. Kamu kemasukan maling, ya?”
“Iya pak,” jawab Ellie singkat. Ellie mencoba untuk berpikiran jernih saat melihat kehadiran Robert di sana. Dia mencoba untuk tidak berburuk sangka bahwa Robert berada di balik semua ini, tapi hatinya justru mengajaknya berpikir sebaliknya.
“Wah, kok bisa?  Malingnya masuk lewat mana?”
“Pintu samping, Pak.”
“Pintunya rusak?”
“Enggak, Pak.”
“Pintunya enggak rusak? Terus gimana cara malingnya bisa masuk? Jangan-jangan ada orang dalam yang beraksi.”
“Orang dalam?” Ellie segera bangkir berdiri dan berjalan kehadapan Robert. “Maksud Bapak apa? Karyawan saya? Saya kenal para pekerja saya di sini, Pak. Enggak mungkin mereka bisa berbuat seperti itu. Saya malah berpikir jangan-jangan orang gedung Bapak yang berbuat seperti itu. Ada yang mau sabotase keberadaan saya di sini.”
“Hei, hei, hei… Kamu jangan bicara sembarangan, ya. Apa maksud kamu nuduh orang gedung berbuat kotor seperti itu?”
“Karena terlalu kebetulan, Pak, kedai saya ini kena masalah-masalah aneh bertubi-tubi. Pertama, tagihan air dan listrik yang sangat tidak masuk akal. Kedua, listrik kedai ini mati di saat kami sedang ada acara, dan hanya kedai kami yang mati. Saya sudah tanya ke kepala divisi perawatan gedung kalau kejadian saat itu adalah permintaan langsung dari Bapak. Pak, came on, kenapa harus sebrutal itu? Ketiga, kemalingan yang hampir tak masuk akal di gedung besar seperti ini? Harusnya Bapak malu, karena itu berarti sistem keamanan di sini sangat payah. Bukannya malah menyalahkan karyawan saya sebagai orang dalam.”
“El, kamu jangan berbicara sembarangan, ya. Lebih baik kita panggil polisi saja biar semua ini diselidiki.”
“Saya rasa tidak perlu, Pak. Saya tidak kehilangan barang satu pun.”
“Panggil saja polisi biar jelas masalahnya di sini.  Saya tidak terima kamu tuduh seperti itu.”
Hening muncul menyela di antara percakapan mereka.  Ellie mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, mencoba mencari kekuatan untuk menghadapi polah Robert.
“Dengar, ini peringatan terakhir saya. Kamu saya kasih waktu satu bulan untuk melunasi tagihan dan sewa tempat ini secara penuh. Mulai sekarang saya akan memperlakukan kamu seperti penyewa lain di sini. Jika kamu tidak sanggup melunasi semuanya, silahkan angkat kaki dari sini. Masih banyak yang tertarik dengan tempat kamu ini. “Kamu lihat sendiri, kan, tempo hari Bos kafe franchise itu datang kemari. Dia sanggup bayar sewa tempat ini berkali-kali lipat dari harga yang kamu bayar. Sekarang untuk apa saya juga harus menanggung beban dari kerugian kamu kalau saya bisa mengambil untung banyak dari mereka?”
Ellie bisa merasakan seluruh aliran darahnya seperti mendidih mendengar perkataan Robert barusan. “What?” Ellie berada di ambang tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi karena syok.

#30DWC #DWCJilid19 #DAY26

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih untuk setiap komentar yang dimasukkan.